Wednesday, April 14, 2010

keuntungan lewat kpr

Belilah rumah lewat KPR

Keuntungan Beli Properti secara kredit (KPR/KPA/KPT) :

  1. Anda tidak perlu disiplin menabung, karena ini jadi pengeluaran rutin
  2. Langsung memiliki dan menempati rumah (seken) meskipun hanya membayar 0% (Tanpa DP) s/d 37% dari harga rumah.
  3. Legalitas Lebih Terjamin
    Resiko ditanggung berdua dengan Bank (lembaga resmi dan berpengalaman)
  4. Harga Lebih Terjaga
  5. Kredit konsumen yang bunganya paling kecil. Bandingkan dengan bunga Kartu kredit & KTA. Jadi, anda bisa alihkan kredit mobil & Kartu kredit Anda ke KPR
  6. Harga properti cenderung naik.
    Persentase kenaikannya bisa melebihi bunga kredit, sehingga di akhir masa kredit, total yang Anda bayar bisa lebih kecil dari harga rumah.

Apalagi yang Anda tunggu.. ?

Jika anda menabung untuk bisa membeli rumah, Tabungan Anda akan sulit mengejar kenaikan harga rumah.

http://www.rumahkpr.com/keuntungan-lewat-kpr/

Bunga KPR Bank

Rate BI : 8,75(7Jan09), 6,75% (3 juli 2009), 6,5% dari 5 agustus 2009 s/d 4 Februari 2010 belum berubah

Bank Niaga : 10,99% (Januari 2010)

Bank Permata : 9,0% (27 Januari 2009)

Bank NISP : 10,25% s/d 12,25%

Bank Buana : 9,8% (januari 2010), 9,25% (Feb 2010)

Bank BII : 10,45%

Bank Danamon : 9,5% (27 Januari 2009)

Bank Mega : 10,99% – 13,99%

Bank BNI : 8,88% hingga januari 2010 khusus wanita

Bank Panin : 12,8%

Bank Mandiri : 11,75%

Bank BRI : 12.25%

Bank BCA : 10,5%

BTN : 9,75 s/d 12%. 13,5% untuk ruko

Catatan :

Sukubunga KPR Bank dengan rate BI lebih tinggi 3-4%.
Jadi kalau dibawah itu, berarti bukan sukubunga terbaru.
Yang terbaru, silahkan lihat di website resmi Bank bersangkutan

Thursday, April 8, 2010

Hot Deal dalam Negosiasi Lahan

Dalam pola akuisisi lahan untuk dikembangkan menjadi perumahan, ada beberapa pola yang dapat dijalankan. Tapi pola yang seperti apa yang termasuk HOT DEAL?

Kategori HOT DEAL adalah tidak membutuhkan modal awal yang banyak untuk mengakusisi lahan. Harga perolehannya pun di bawah harga pasar. Dan pola pembayaran yang ringan serta saling menguntungkan.

Beli putus
Cara termudah dalam akuisisi lahan. Anda tinggal bayarkan sesuai harga kesepakatan berikut pajak dan proses sertifikasi di Notaris dan BPN. Kelemahannya adalah modal yang Anda tanamkan menjadi besar. Hot deal yang harus Anda dapatkan adalah memperoleh lahan dengan harga di bawah harga pasar.

Beli bertahap
Cara ini juga relatif mudah. Namun membutuhkan negosiasi yang lebih. Karena tidak semua pemilik lahan bersedia untuk menerima pembayaran secara bertahap. Kelemahannya adalah modal yang Anda tanamkan sedikit membesar dan Anda akan terjebak dalam permainan resiko pemasaran. Artinya akuisisi lahan membutuhkan putaran kas (cash flow) dari hasil penjualan. Sedangkan penjualan tidak serta merta dapat diprediksikan dengan mudah. Hot deal yang harus Anda dapatkan adalah memperoleh lahan dengan harga di bawah harga pasar dan cara pembayaran yang relative ringan.

Terdapat 3 pola dalam pembayaran bertahap. Yakni pembayaran berdasarkan waktu dan pembayaran berdasarkan kegiatan serta cara pembayaran gabungan antara waktu dan kegiatan.

Cara pembayaran berdasarkan waktu artinya Anda membayar lahan sesuai waktu yang telah disepakati. Misalkan 6 bulan. Cara pembayaran berdasarkan kegiatan artinya anda membayar lahan sesuai kegiatan yang disepakati. Misalkan kapan terjadi pembayaran uang muka, kapan pembayaran lahan ketika perijinan selesai, kapan pembayaran ketika sertifikat selesai balik nama dll. Sedangkan cara pembayaran berdasarkan gabungan keduanya artinya Anda membayar lahan sesuai waktu dan kegiatan yang disepakati.

Kerjasama kepemilikan
Inilah HOT DEAL yang sebenarnya. Dengan pola pembayaran ini, Anda dapat menekan modal awal proyek. Anda mendapatkan pola pembayaran yang ringan. Namun dengan kemudahan ini, Anda HARUS BERBAGI KEUNTUNGAN DENGAN PEMILIK LAHAN. Dan pola ini adalah cara teraman namun bukan cara termudah karena membutuhkan negosiasi yang tidak mudah pula.

Inti dari pola pembayaran ini adalah pembayaran berdasarkan kapling yang terjual. Misalkan dalam suatu lahan seluas 400m2, senilai 400 Juta, Anda membaginya menjadi 4 kapling masing-masing seluas 100m2. Maka setiap penjualan 1 kapling, Anda memiliki kewajiban pembayaran lahan sebesar 100 juta + +.

Bagaimana dengan pola bagi hasilnya? Cara tersimple adalah dari harga kesepakatan, naikkan harganya untuk menambah keuntungan pemilik lahan. Misalkan harga perolehannya 400 juta, Anda naikkan menjadi 440 juta dengan pola pembayaran ini. Atau Anda menghitung kelayakan keuangan proyek, berbagi hasil dari net income/profit.

Pemilik lahan tidak memiliki resiko atas bisnis, namun justru memiliki proyeksi keuntungan. Kenapa? Lahan miliknya jika tidak laku dijual, lahan masih utuh. Justru resiko berada di Anda sebagai developer. Namun resiko ini sangat kecil karena lahan tidak Anda akuisisi dengan pola yang lainnya. Jadi kedua belah pihak sama-sama diuntungkan.

Jadi seperti apa pola pembayaran lahan Anda? Bila Anda telah memiliki lahan HOT DEAL, sampaikan ke kami. Kami bantu untuk menjadi DEVELOPER PROPERTI!

http://aryodiponegoro.wordpress.com/2010/01/16/hot-deal-dalam-negosiasi-lahan/

cara hitung cicilan KPR

ering sekali klien-klien saya bertanya jika mereka ingin menggunakan fasilitas KPR, berapa plafon KPR yang bisa mereka dapatkan. Dulu saya – sesuai petunjuk Account Officer Bank pemberi KPR – akan menjawab besaran cicilan maksimum adalah 30% dari jumlah penghasilan bulanan.

Jawaban standar. Logikanya kepuasan konsumen yang standar pula. Namun di kemudian hari, karena banyak bersilaturahmi dengan kawan-kawan yang sudah jago dalam pembiayaan KPR, maka saya mendapatkan formula Analisa Kelayakan KPR yang meski sederhana, tapi saya bisa bicara banyak.

Dalam spreadsheet ini saya bisa bicara berapa seharusnya uang muka yang musti dibayarkan untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan penghasilan klien. Saya juga lebih PD (percaya diri) untuk membawa klien saya ke Bank karena saya sudah tahu perkiraan keputusan KPR. Pun saya berani memperjuangkan KPR klien saya sampai GOL jika menurut analisa saya, klien sebenarnya memiliki kemampuan membayar kembali.

Saya juga bisa mencetaknya dan memberikan kepada klien sebagai oleh-oleh (baca tulisan saya tentang Lima Jurus Men-deal-kan Produk Properti Anda). Singkat cerita klien saya puas hanya dengan pelayanan tambahan yang sangat sederhana sebenarnya.

http://www.aryodiponegoro.com/

Sunday, April 4, 2010

JADI KAYA RAYA DAN FINANCIAL FREEDOM SECARA ISLAM

JADI KAYA RAYA DAN FINANCIAL FREEDOM SECARA ISLAM
Digali dari kemapanan ekonomi sahabat Rasulullah SAW

Assalamu ‘alaikum wr wb,
Ba’da tahmid was sholawat

Salam Berkah…

Kebebasan Finansial (Financial Freedom) sedang banyak dibicarakan akhir-akhir ini. Inti dari kebebasan finansial adalah adanya jaminan pendapatan yang kontinyu (passive income) dan jaminan finansial di hari tua. Dari terminologinya dan dari ide ini bermula, terkesan istilah ini seperti baru muncul pada belakangan ini, tapi sesungguhnya, Financial Freedom secara hakiki dan prakteknya bahkan sudah dilakukan para sahabat Rasulullah SAW 1400 tahun yang lalu.

“Ah, terang saja, kan para sahabat adalah manusia yang tidak bergantung pada uang karena mereka adalah orang yang zuhud!” mungkin itu yang terbersit dalam pikiran sebagian dari kita. Tapi yang ingin saya sampaikan adalah “FAKTA” bahwa para sahabat telah mengalami Financial Freedom dengan definisinya seperti yang juga dipahami saat ini.

Dalam sejarah tercatat, Umar bin Khattab RA ketika wafat meninggalkan ladang pertanian sebanyak 70.000 ladang, yang rata-rata harga ladangnya sebesar Rp 160 juta (perkiraan konversi ke dalam rupiah). Itu berarti, Umar meninggalkan warisan sebanyak Rp 11,2 Triliun. Setiap tahun, rata-rata ladang pertanian saat itu menghasilkan Rp 40 juta, berarti Umar mendapatkan penghasilan Rp 2,8 Triliun setiap tahun, atau 233 Miliar sebulan!!!. (Fikih Ekonomi Umar bin Al-Khattab ra, penerbit Khalifa, hal. 47 & 99)

Wow, luar biasa…

Belum lagi para sahabat yang lainnya, seperti Abdurrahman bin ‘Auf, Utsman bin Affan dan sahabat yang lain yang telah meraih Financial Freedom….

“Ah, itu kan dulu, manusia masih sedikit, dan kesempatan masih banyak. Kalau masa sekarang??, persaingan makin hebat, ladang pertanian pun hasilnya tidak memuaskan, karena praktek monopoli dan ekonomi kapitalis…, apalagi sekarang sedang krisis global” Mungkin hal ini juga yang ada dalam pikiran sebagian dari kita.

Sekarang saya ingin mengajak Anda, melihat secara melingkar dan hilangkan sejenak semua persepsi negatif dan mari berfikir positif. Mari kita yakinkan kembali diri kita dengan pertanyaan-pertanyaan berikut : Bukankah Allah Maha Kaya? Setujukah Anda bahwa Eksplorasi bumi ini belum maksimal digali? Bukankah masih banyak rahasia Allah yang masih belum terbuka? Bukankah Allah menurunkan rizqinya pasti sesuai dengan jumlah penduduk dan selalu berada pada timbangan keadilan?

Oke…

Berarti, keyakinan saya atas rizqi Allah adalah sama seperti Anda semua, Allah telah menetapkan rizqinya kepada siapa yang dikehendaki. Dan setiap zaman punya caranya sendiri dalam menghasilkan rizqi dan menghadapi kesulitannya. Dalam hal ini, saya setuju dengan kalimatnya Tung Desem Waringin, “Dunia berubah, cara cari uang pun berubah”….

Untuk itu mari kita berupaya untuk “Open Minded” dan “Think Out of The Box”, kita terus belajar dan menyesuaikan diri dengan kondisi zaman. Contohnya (ini saya kutip dari TDW lagi), pemutar kaset pita dikembangkan 100 tahun, tapi ketika ada cakram CD, hanya 4 tahun, bisnis pemutar kaset pita hilang ditelan zaman. Kalau kita tidak belajar dan membaca zaman, kita hanya bisa meratap dan menyalahkan diri sendiri serta zaman yang makin berat (penuh persaingan)….

Lalu, pertanyaannya ?

Bagaimana caranya Financial Freedom di masa sekarang? Dengan cara halal dan berkah? Bukan dengan manipulasi dan cara ribawi? Tidak dengan maisir dan gharar?

Perkenankan saya untuk sharing (Tanpa bermaksud mendahului Allah dan tetap menjaga keikhlasan). Bahwa -Insya Allah- sekarang ini saya berada pada kondisi Financial Freedom.

Kenapa demikian? Kenapa saya begitu yakin ? Sekali lagi saya ingin berbagi pengalaman dengan Anda.

Beberapa poin yang membuat saya yakin adalah:

1. Pengetahuan saya tentang properti
2. Brand Properti yang telah saya buat, dan
3. Properti yang telah saya miliki

Wah, semuanya tentang properti? Ya, karena sejarah telah membuktikan bahwa para sahabat pun sebenarnya telah meraih Financial Freedom dari Properti (baca: Ladang Pertanian). Dengan menyesuaikan pada kondisi sekarang, dan ilmu-ilmu serta pengalaman yang saya kuasai, saya kemudian mempraktekkan kembali kesuksesan para sahabat Rasul SAW tersebut hingga akhirnya saya berhasil meraih Financial Freedom hanya dalam waktu 2,5 tahun saja. Dan, di tahun ini, pada umur 30 tahun, saya sudah pensiun. Alhamdulillah…

Kemudian, Apa rahasianya ?
Sekali lagi, rahasianya adalah Properti!

Banyak properti yang saya beli, tanpa modal, tanpa uang saya sendiri.
Bagaimana praktiknya ?

Beberapa yang akan saya share adalah sbb:

1. Ada sebuah rumah yang saya beli di tahun 2008. Luas Bangunan 1.400m2, Luas Tanah 850m2. Harga pasarannya Rp 3 Miliar (pasaran tanah sekitar Rp 1,5jt/m2 dan bangunan 1,25jt/m2). Hanya krn pemiliknya butuh uang, diapun menjualnya seharga 1,6 Miliar (berarti saya sudah untung 1,4 M di awal). Kemudian, Saya ajukan ke bank syariah, pada waktu itu ada 2 bank yang menyetujuinya, bank pertama 2,9 M dan bank ke dua 1,84 M. Tetapi Saya ambil yang kedua, mengapa? karena syaratnya lebih ringan. Akad kredit pun dilaksanakan dan akhirnya bank yang bayar properti saya (Sayapun untung lagi Rp 240 Juta kan?). Pada saat itu sang pemilik setuju saya bayar 1 M dulu, tiga bulan kemudian saya lunasi yang 600juta-nya untuk saya putar di usaha saya, (tentunya saya untung lagi, karena dapat modal usaha Rp 600 Juta).

Lalu, ada yang bertanya. Kan ke bank nya harus nyicil? Ya, rumah itu kini sudah ada cashflow Rp 11 juta per bulan dari kost-kostan, tapi belum semua. Kalau dioptimalkan saya hitung-hitung, bisa dapat penghasilan rata-rata Rp 35 juta. Cicilan ke bank Rp 28 juta (jadi tiap bulan saya untung 7 juta bukan?).
KESIMPULANNYA : Saya dapat beli rumah itu tanpa uang (kemudian bahkan dapat modal), dan cicilannya pun tidak perlu saya khawatirkan karena sudah ada cash flownya.

Untungnya apa cuma segitu? Eit, tunggu dulu…. Tiap tahun rata-rata properti di Indonesia naik 16 persen. Berarti tiap tahun saya nambah tabungannya sebesar Rp 480 juta (16% dikalikan 3M), sangat berkah Alhamdulillah, dengan satu properti ini saja, saya sudah meraih Financial Freedom….

Masih ada lagi properti-nya?

2. Saya beli lagi sebidang tanah, luas tanahnya 6500 m2. Harga pasaran Rp 2,5 M. (Lagi-lagi) karena pemiliknya butuh uang, diapun menjual tanah tersebut seharga 1,5 M (bisa dihitung khan? saya untung di saat beli, 1 M). Kalau yang ini saya pakai modal Rp 500 juta, modal ini saya dapat dari perputaran usaha dan dalam 1,5 bulan sudah balik lagi dari penjualan tanah itu dalam bentuk dikavling-kavling. Saya ajukan ke bank syariah, ternyata diappraise Rp 4 M, dan bank menyetujui kredit saya sebesar Rp 3 Miliar atas jaminan tanah itu. (Ini strategi saya dapat modal dari properti)

Masih ada lagi !

3. Rumah dan kantor yang sekarang saya tempati juga saya dapat dengan strategi itu. Dan “puluhan” properti lain yang sudah saya akuisisi dan beli tanpa uang dari kocek saya sendiri…. Dan ini membuat saya menjadi developer dengan brand sendiri, “The Orchid Realty”. Tahun ini The Orchid dijuluki sebagai “The First Islamic Property Developer in Indonesia”.

Wow….Sangat berkah, Alhamdulillah.

Saya sebenarnya malu (dan terus beristighfar) menceritakan ini semuanya kepada Anda, karena hanya Allah Yang Maha Kaya, dan dalam sekejap pun Dia bisa mengambil ini semua bahkan tanpa peringatan sedikitpun. Dalam hal ini saya hanya mencoba membaca zaman, ini zamannya “KEMASAN dan PROMOSI”, bahkan untuk ilmu yang penting (baca: Rahasia Properti) seperti ini saja, harus dikelola dengan cara yang profesional.

Dalam lubuk hati yang paling dalam, saya ingin berbagi ilmu tersebut kepada Anda semua, saya akan buka semua tips dan triksnya. Kebahagiaan bagi saya ketika melihat kaum Muslimin bisa berjaya secara ekonomi. Ilmu ini bisa diterapkan oleh siapa saja; pengusaha, karyawan, ibu rumah tangga, bahkan pengangguran sekalipun.

Sharing ilmu ini akan dikemas dalam bentuk training dua hari. Training ini Sebenarnya “free” tanpa biaya, tapi harus ada seleksi, siapa yang benar-benar ingin belajar dan ingin bebas dari kungkungan kesulitan keuangan yang menjerat. Dengan biaya investasi, Anda akan sungguh-sungguh belajar dan saya pastikan, jika Anda praktekkan keseluruhan tips dan triksnya, investasi itu akan kembali dalam waktu yang singkat.

Ada dua hal yang menjadi penghambat menuju Financial Freedom, yang pertama adalah “mental blocking” dan yang kedua “know how”-nya. Saya akan buka semuanya dan membimbing Anda menjadi seorang Muslim tangguh yang akan mendapatkan kebebasan finansial.

Saya tertegun dengan Hadits Rasulullah SAW, “Berilah makan, sebarkan salam, shalatlah di waktu malam saat manusia lain tertidur, dan masuklah Syurga dengan kedamaian” (Al-Hadits). Jadi prioritas utama dalam hidup ini adalah selamatkan perut dari kecemasan, lalu Islam akan mudah masuk ke dalam hati, dan kita mendapatkan Financial Freedom di dunia, juga Nobel Freedom (Kebebasan Mulia) di akhirat.

Kerisauan saya yang terbesar sekarang adalah –sungguh- keuangan telah menjadi “Tuhan” yang menjauhkan kita dari Tuhan yang sebenarnya. Dengan FINANCIAL FREEDOM IN THE ISLAMIC WAY, saya ingin mengajak kita semua kembali kepada Tuhan yang telah menciptakan rizqi ini hanya untuk menyembah dan beribadah kepada-Nya.

Salam BERKAH….!!! BERhasil….. Karena….. SyariAH….
Wassalam,

Nasrullah
Direktur Utama dan Pemilik
The Orchid Realty

Nasrullah034@yahoo.com
http://www.orchid-realty.com
oiptraining.wordpress.com
orchid.training@yahoo.co.id

Sedikit dari Banyaknya Bukti Kekayaan Sahab

Sedikit dari Banyaknya Bukti Kekayaan Sahabat

Kekayaan Umar bin Khattab ra

  • Mewariskan 70.000 properti (ladang pertanian) seharga @ 160juta (total Rp 11,2 Triliun)
  • Cash flow per bulan dari properti = 70.000 x 40 jt = 2,8 Triliun/ tahun atau 233 Miliar/bulan.
  • Simpanan = hutang dalam bentuk cash

Kekayaan Utsman bin ‘Affan ra

  • Simpanan uang = 151 ribu dinar plus seribu dirham
  • Mewariskan properti sepanjang wilayah Aris dan Khaibar
  • Beberapa sumur senilai 200 ribu dinar (Rp 240 M)

Kekayaan Zubair bin Awwam ra

  • 50 ribu dinar
  • 1000 ekor kuda perang
  • 1000 orang budak

Kekayaan Amr bin Al-Ash ra

  • 300 ribu dinar

Kekayaan Abdurrahman bin Auf ra

Melebihi seluruh kekayaan sahabat!!

  • Dalam satu kali duduk, pada masa Rasulullah SAW, Abdurrahman bin Auf berinfaq sebesar 64 Milyar (40 ribu dinar)
  • Bukan hanya sahabat utama yang kaya, namun juga rakyatnya hidup berkecukupan

Pada masa Umar bin Khattab ra (10 tahun bertugas),

  • Mu’adz bin Jabal menuturkan di Yaman sampai kesulitan menemukan seorang miskin pun yang layak diberi zakat (Al-Amwal, hal 596)
  • Mampu menggaji guru di Madinah masing-masing 15 dinar atau +/- 18 juta/bulan (Ash-Shinnawi, 2006)

Pada masa Umar bin Abdul Azis ra (3 tahun bertugas)

  • Yahya bin Sa’id (petugas zakat) berkata, “Ketika hendak membagikan zakat, saya tidak menjumpai seorang miskin pun. Umar bin Abdul Azis telah menjadikan setiap individu rakyat pada waktu itu berkecukupan”. (Ibnu Abdil Hakam, siroh Umar bin Abdul Azis, hal 59)
  • Surat Gubernur Bashrah, “Semua rakyat hidup sejahtera sampai saya sendiri khawatir mereka akan menjadi takabbur dan sombong.” (Al-Amwal, hal 256)

Anda juga bisa kaya seperti mereka, karena sumber kekayaan kita -umat Islam- telah ada, hanya tinggal digali!


Pengelolaan dan Pencatatan Keuangan yang Simple

alam membuat sistem keuangan yang standar (sistem akuntansi), kadang kita kesulitan untuk mendapatkan Sumber Daya Manusia yang mumpuni dalam bidang keuangan khususnya Akuntansi. Kalau membeli sistem yang baku dan berdatabase, aduh mahalnya… Kalau menggunakan sistem yang gratisan (opensource), tidak semuanya bisa kita customize.

Padahal apa yang kita butuhkan dalam pengelolaan keuangan? Transaksi yang jelas dan keuntungan yang jelas bukan? Sesederhana itu. Maka kemudian saya mencoba untuk berbagi prinsip yang juga sederhana dalam pengelolaan keuangan yang simple, mudah dan semua orang dalam strata finansial maupun akademis dapat menggunakannya, membacanya dan mengartikannya. Tentu saja prinsip ini berkaitan dengan bisnis properti.

Rekening Penerimaan dan Rekening Pengeluaran
Pencatatan keuangan pada prinsipnya mencatat uang masuk dan uang keluar. Maka buka 2 rekening di bank untuk menerima uang dan mengeluarkan uang. Jadilah Rekening Penerimaan dan Rekening Pengeluaran.

Rekening Penerimaan digunakan untuk menerima uang masuk dari konsumen, modal, hutang kas dan penerimaan lainnya. Rekening Penerimaan akan dikeluarkan HANYA dan HANYA JIKA ke Rekening Pengeluaran. Rekening Pengeluaran digunakan untuk biaya, membayar hutang dan pengeluaran lainnya. Tentunya uang yang digunakan untuk membayar diperoleh dari mutasi bank atas Rekening Penerimaan.

Kenapa harus di Bank? Karena kita akan memanfaatkan Bank sebagai pencatat semua transaksi kita. Setidaknya sebagai kontrol atas transaksi yang dijalankan oleh kita. Hal ini dapat meminimalisasi kesalahan pencatatan.

Teori bodohnya adalah ketika semua uang masuk ada di rekening Penerimaan dan dikeluarkan hanya ke Rekening Pengeluaran maka saldo akhir proyek di Rekening Penerimaan adalah KEUNTUNGAN BERSIH!

Counter Sign
Rekening Penerimaan dan Rekening Pengeluaran standarnya dibuat dalam rekening giro. Bilyet giro yang tersedia ditandatangani oleh minimal 2 orang yang mewakili perusahaan.

Prinsip dasar yang diterapkan adalah saling mengingatkan agar tidak terjadi kesalahan baik kesalahan karena kebodohan sendiri maupun kesalahan karena kebodohan orang lain. Sekaligus kontrol terhadap setiap pengeluaran.

Perbanyak Rekening Penerimaan dan Hanya Satu Rekening Pengeluaran
Saya kira maksud dari prinsip ini jelas. Kita memperbesar pundi-pundi penerimaan namun hanya ada satu rekening pengeluaran. Ibaratnya seperti tandon air hujan. Lubang untuk menampung sangat besar dan luas sedangkan untuk mengeluarkan hanya ada beberapa pipa kecil.

Rekonsiliasi Bank

Jika kita memiliki rekening di bank, pencatatan transaksi yang dibuat oleh bank dalam bentuk Rekening Koran yang dilaporkan setiap bulan atau setiap ada permintaan dari kita. Kadang pencatatannya tidak begitu jelas.

Dalam format bank setiap uang yang kita masukkan akan tercatat dalam posisi kredit dan setiap uang yang keluar maka tercatat dalam posisi debet. Hal ini juga yang mewajibkan kita untuk merubah pencatatan bank sesuai dengan kebutuhan kita.

Contoh : penarikan cek no 123456 posisi debet 100 juta. Maka perlu kita perjelas bahwa penarikan cek itu untuk apa. Apakah mutasi bank atau untuk biaya atau untuk hal lainnya. Maka dalam rekonsiliasi bank kita akan dicatat contohnya : Pengeluaran untuk biaya tanah dengan cek no 123456 pada posisi kredit.

Tujuh Hari Mencari Uang dan Satu Hari Mengeluarkan Uang
Strategi uang masuk setiap hari dan uang keluar hanya satu hari sebenarnya adalah kebijakan umum yang dilakukan banyak perusahaan. Ini adalah strategi yang lincah untuk bermain cash flow dimana sumber daya perusahaan bekerja 7 kali lipat untuk mencari uang dan hanya 1/7 untuk mengeluarkan uang.

Sebenarnya apakah 7 atau 14 atau 21 adalah terserah dengan kebijakan perusahaan Anda. Tapi prinsipnya adalah memperbanyak hari untuk mencari uang dan hanya satu hari untuk mengeluarkan uang.

One Shot One Game
Maksud dari prinsip ini adalah semua rekening penerimaan dan pengeluaran hanya digunakan untuk satu proyek yang ada. Jika Anda akan membuka proyek lagi, buka lah rekening penerimaan dan pengeluaran yang berbeda. Semuanya hanya agar pencatatan keuangannya dapat dipertanggungjawabkan di setiap proyek.

http://aryodiponegoro.wordpress.com/2009/03/07/pengelolaan-dan-pencatatan-keuangan-yang-simple/#comment-1142