Friday, August 13, 2010

bata merah atau HEBEL

ata masih menjadi pilihan utama untuk bangunan rumah. Kini jenis bata kian beragam dan pembuatannya pun mulai memakai perangkat teknologi.

Biasanya kalau ada orang mencari rumah baru di perumahan-perumahan yang masuk kelas menengah ke bawah, pertanyaan yang sering muncul ke pihak pengembang apakah dindingnya terbuat dari batu bata atau batako. Ini bisa dimaklumi karena jenis material yang digunakan untuk dinding sangat menentukan kekuatan rumah tersebut. Apalagi di banyak masyarakat sendiri masih punya kesan kuat bahwa batu bata lebih kuat ketimbang batako. Sekalipun saat ini ada beberapa batako yang dibuat dengan teknologi mesin.

Sebetulnya masyarakat Indonesia sejak dulu sudah akrab dengan material batu bata atau dikenal juga bata merah karena warnanya yang kemerah-merahan. Ini bisa terlihat dari bangunan candi di beberapa daerah di Jawa yang menggunakan bata merah sebagai fondasi maupun dinding. Bahan dasar batu bata merah terbuat dari tanah liat, yang umumnya merupakan indutri rumah.

Kelebihan dari bata merah, selain daya tahannya yang lama, tentu tergantung kualitas pembuatan, juga mudah dalam pemasangan. Di luar bata merah, material lainnya yang menjadi pilihan untuk dinding adalah batako. Dari sisi ukuran batako lebih besar dari batubata. Bahan dasar pembuatan batako ada yang terbuat dari campuran pasir dan semen. Ada juga batako yang terbuat dari kapur.

Sayang, karena pembuatan batako yang sifatnya massal sering kurang memperhatikan kualitas bahan bakunya. Sehingga masyarakat cenderung lebih banyak menggunakan bata merah. Apalagi saat ini teknologi pembuatan bata sudah makin berkembang. Cara pembakarannya pun sudah menggunakan mesin, tidak lagi cara tradisional. Sehingga mampu menghasilkan batu bata yang tidak hanya kuat tetapi juga tampil cantik untuk dinding rumah.

Batu bata yang dibuat di pabrik-pabrik biasanya orang menyebutnya dengan nama bata press atau bata beton. Menurut Abdullah Ali Hadil, Chairman Bintang Timbul, bata press dapat diproduksi dengan cara dibakar memakai bahan bakar minyak, kayu atau dari batubara. Ada dua jenis bata press yang banyak beredar di pasaran, yaitu bata press ekspos dan bata press non ekspos. Bata press eskpos tidak perlu diplester lagi, dan pembuatannya pun agak rumit ketimbang yang non ekspos.
Cara pemasangannya pun untuk bata press ekspos harus ditangani oleh tukang batu yang sudah berpengalaman dan ahli. Beda dengan bata press non ekspos yang tidak harus tukang batu berpengalaman, karena toh, harus diplester agar rapih. Dari segi warna, bata press khususnya yang ekspos memang lebih natural, ketimbang bata merah biasa. Selain warna yang lebih bagus, bata press ekspos lebih mudah perawatannya.

Soal harga, menurut Abullah, bata press ekspos memang lebih mahal ketimbang bata press non eskpos. “Tetapi kalau dibandingkan secara beaya keseluruhan, menggunakan bata press ekspos dengan yang non eskpos hampir sama beayanya, karena yang non ekspos ada biaya untuk pemlesteran,” kata Abdullah.

Sistem Interlock
Makin berkembangnya pembuatan bata saat ini bisa dilihat dari produk-produk bata di pasaran yang sudah menggunakan sistem interlock. Dengan sistem interlock pemasangan bata lebih cepat, akurat dan presisi. Salah satu material bata yang menggunakan sistem interlock adalah bata beton merek iBrick. Menurut Herbowo, Public Solution, PT. Drymix Indonesia, pemasangan bata iBrick terbilang simpel karena menggunakan sistem interlock. “Adanya komponen interlocking iBrick memiliki kemampuan menahan geser. Sehingga akan lebih baik dalam menahan gaya horizontal akibat gempa,” kata Herbowo.
Bata dengan sistem interlock membuat dinding sangat flat karena presisinya cukup baik ketimbang batu bata konvensional. Bahan dasar bata iBrick terbuat dari semen, pasir dan additive, dengan metode pemadatan dan vibriasi (seperti paving block). Menurut Herbowo, bata iBrick ini produk original dari PT. Drymix Indonesia. “Produk ini merupakan produk inovatif,” ujar Herbowo.

Bambang Barata, pengamat arsitek, mengatakan dari segi harga bata merah memang paling murah dibanding bata press atau bata hebel. Walaupun saat ini kualitas bata merah sangat variatif. Kelebihan bata merah ini sangat mudah menyerap air, sehingga plester lebih melekat. “Kelemahan bata ini biasanya rapuh, jadi harus pintar-pintar memilih bata yang baik,” kata Bambang.

Sementara bata beton dari segi harga memang lebih mahal dari bata merah biasa. Keunggulan jenis bata ini yaitu ukuran dan kualitasnya lebih terjamin karena produksi pabrik. Ukurannya pun cenderung lebih besar dari bata merah, sehingga jumlah penggunaan per meter persegi lebih sedikit. “Keunggulannya adalah lebih kuat dibandingkan bata merah. Kualitas penyerapan air lebih kecil bila dibandingkan bata merah,” ujar Bambang.

Jenis lain untuk konstruksi dinding adalah hebel. Menurut Bambang, harganya memang lebih mahal ketimbang bata merah atau bata beton. Tapi kualitas dan ukuran tentu terjaga. Kelebihan dari hebel adalah ringan sehingga bisa mengurangi beban konstruksi, yang otomatis berpengaruh terhadap besarnya balok dan kolom. Ukuran bata jenis hebel lebih besar-besar, sehingga konstruksi menjadi semakin cepat. Namun untuk plesteran harus menggunakan semen khusu yang agak mahal. “Akhirnya tergantung budget kita. Bila ingin harga termurah pilih bata merah yang terbaik kualitasnya. Tapi bila ingin cepat gunakan bata sejenis hebel, namun lebih mahal,” kata Bambang. HENDARU, HARYANTO, ION SATURANGGA

No comments:

Post a Comment

Post a Comment