Tuesday, February 22, 2011

Mortar Instan- Lebih Cepat Lebih Berkualitas

http://www.housing-estate.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1417&Itemid=137


Kualitas dan komposisi bahan bakunya ditakar akurat dan diaduk dengan mesin terkomputerisasi.

Semen atau mortar instan untuk pasar ritel mirip baja ringan. Awalnya, hanya ada satu dua merek seperti Mortar Utama (MU). Tapi, begitu konsumen mulai familiar dengan bahan bangunan itu, pemain baru pun bermunculan. Sebenarnya mereka sudah lama memasarkan mortar, tapi hanya untuk pasar proyek. Baru belakangan masuk ke pasar ritel (dijual eceran dalam kemasan 40 – 50 kg).

Mortar instan adalah adukan semen dan pasir ditambah bahan lain yang pencampurannya dilakukan dengan mesin (biasanya dari Jerman) secara terkomputerisasi. Karena itu kualitas bahannya lebih terjamin dengan komposisi adukan akurat. Pasirnya pasir silika dengan kadar lumpur rendah, sudah dikeringkan, dan terkontrol gradasi kehalusannya sesuai tujuan penggunaan.

Mortar instan diproduksi secara spesifik sesuai peruntukan: untuk pasangan bata, plesteran, acian, pasangan keramik, dan seterusnya. Sebab itu setiap merek tersedia dalam banyak jenis. Drymix misalnya, memiliki hingga 70 varian produk. Sementara MU menawarkan 25 jenis. Untuk dinding spesifikasi produk ditekankan pada daya rekat, untuk lantai pada daya tekan atau kekuatan. Sedangkan Asana Mortar 16 jenis untuk proyek dan lima untuk pasar ritel.

Konsumen tinggal memilih sesuai kebutuhan. Lalu tambahkan air, aduk sempurna, dan aplikasikan sesuai petunjuk. Lebih cepat, lebih bersih, tanpa bahan terbuang (waste). Mirip kopi instan. Karena itu disebut mortar atau semen instan atau pre-mixed mortar. “Mortar instan itu inovasi bahan bangunan yang lebih praktis dan cepat, sebagai jawaban atas kelemahan cara-cara konvensional,” kata M Pasha Amandhita dari PT Drymix Indonesia, produsen Drymix.

Mortar konvensional
Lawan mortar instan adalah mortar konvensional, adukan semen dan pasir yang biasa dibuat tukang bangunan. Campuran dibuat sesuai tujuan aplikasi dengan pembedaan menurut rasio semen dengan pasir (1:1, 1:3, 1:4 dan seterusnya). Semua berdasarkan perkiraan tukang sehingga kualitas adukan tidak konsisten, terlalu basah atau kurang air.

Kualitas pasir dan pengayakannya juga sulit dikontrol. Misalnya, pasir kurang halus, basah dan bercampur lumpur atau bahan organik lain. Belum banyaknya bahan terbuang karena perlu ruang logistik lebih banyak tanpa standar aplikasi, dan lebih sulit menjaga kerapian/kebersihan lapangan.

Untuk aplikasi tertentu seperti acian atau pasangan bata ringan, mortar instan juga ditambahi filler (bahan pengisi) dan aditif lain untuk menguatkan daya rekat, fleksibilitas, dan kedap air. Untuk pasangan beton ringan misalnya, sulit membayangkan aplikasi bisa sangat tipis dengan mortar konvensional yang tidak mengandung filler.

“Makanya, plesteran mortar konvensional porinya besar-besar karena tidak ada filler-nya. Setelah kering dindingnya juga retak-retak akibat proses hidrasi yang kurang sempurna. Pengaruhnya, acian jadi boros, hasil pengecatan tidak optimal,” ujar Anto P Suparmanto, Technical Application & Development Manager PT Cipta Mortar Utama, produsen MU.

Tapi, itu tidak berarti mortar konvensional tidak bisa bagus. “Bisa asal dikerjakan sesuai waktu-waktunya. Misalnya, pasang bata, lalu tunggu beberapa hari. Diplester, tunggu lagi. Masalahnya, sekarang semua pengen serba cepat tapi tetap bagus. Karena itu muncul mortar instan,” kata Pasha.

Lebih hemat
Agus Sugiarto, Retail Sales Manager PT Astasiti Mahadhana, produsen Asana Mortar, menyebutkan, pengerjaan dinding dengan mortar instan sampai bisa dicat, butuh sekitar 10 hari. Sedangkan dengan mortar konvensional sekitar tujuh minggu. Perhitungan seorang eksekutif perusahaan mortar, untuk pekerjaan dinding dengan blok bata ringan berukuran 600x200x100, menggunakan mortar instan dengan tebal aplikasi tiga mm, biayanya sekitar Rp65 ribu/m2 termasuk upah.

Pekerjaan serupa dengan bata merah berukuran 180x100x40 memakai mortar konvensional, sekitar Rp75.000. Artinya, mortar instan lebih hemat dengan hasil lebih baik. Masalahnya, banyak tukang belum menguasai aplikasi atau tidak disiplin mengikuti petunjuk. “Dan, kalau sudah salah, aplikasi pun bermasalah. Boros, lama keringnya, dan retak. Dan yang disalahkan produknya,” kata Agus yang didampingi Adi Wijaya, Promotion Manager PT Astasiti Mahadhana.

Terlebih, pemakaian mortar instan perlu disesuaikan dengan material pasangannya. “Misalnya, untuk finishing dinding jangan hanya lihat mortarnya, tapi juga pilihan brick (bata)-nya. Mau pakai bata merah tapi mortarnya tipis lima milimeter, ya nggak maksimal,” ujar Pasha. Menurut Adi, untuk pasangan bata merah dan plester misalnya, tebal aplikasi mortar instan > 10 mm, sedangkan untuk pasangan bata ringan dan acian cukup 1,5 – 3 mm.

Ada juga faktor habit. Tukang biasa bekerja borongan. Kalau diminta memakai mortar instan, mereka khawatir upahnya berkurang. Karena itu semua produsen memberikan program edukasi, mulai dari presentasi, training di lapangan, sampai supervisi dan bantuan teknis kepada konsumen (proyek dan ritel). “Kalau ada keluhan mortar instan itu lebih mahal, itu karena kekurangpahaman tukang dalam pengaplikasian,” kata Pasha.

Harga Beberapa Mortar Instan
Merek Jenis Harga (Rp)

Mortar Utama






Asana Mortar





Asana Mortar




MU-100 plester premium
MU-200 acian plesteran dan beton
MU-300 pasangan bata
MU-380 perekat bata ringan
MU-450 perekat keramik lantai
MU-400 perekat keramik dinding

Acian plesteran dan beton
Acian plesteran
Plesteran dan perekat bata merah
Perekat bata ringan
Perekat keramik

Acian plesteran dan beton
Acian plesteran
Plesteran dan perekat bata merah
Perekat bata ringan
Perekat keramik

50.000/40 kg
132.000/40 kg
40.000/40 kg
122.000/40 kg
166.000/40 kg
115.000/25 kg

129.500/40 kg
99.000/40 kg
65.000/50 kg
145.000/50 kg
195.000/50 kg

129.500/40 kg
99.000/40 kg
65.000/50 kg
145.000/50 kg
195.000/50 kg

Sumber: Wawancara HousingEstate dengan produsen mortar, Juni-Juli 2008

Seperti Selai Dengan Roti
Setiap produsen mortar instan juga memproduksi beton ringan (aerated lightweight concrete/ALC atau autoclaved aerated concrete/AAC), atau dikenal dengan istilah bata ringan. MU misalnya, memiliki Primacon, Drymix memproduksi iBrick. Hanya, iBrick lebih tepat disebut bata beton ringan karena lebih berat dari bata ringan. Yang lain sebutlah LeichtBric.

Strategi bisnis itu bisa dimengerti karena bata ringan dan mortar instan sama-sama cement based. Jadi, lebih bersenyawa. “Bangunan bata merah bisa dipretelin, bata ringan (dengan pasangan mortar instan) akan pecah karena mengikat kuat,” kata Anto. Bata ringan adalah campuran semen, kapur, pasir silika yang sudah dihaluskan, dan aditif yang dimasukkan ke dalam cetakan-cetakan dan difermentasi seperti adonan kue.

“Karena itu Primacon dan MU kita ibaratkan seperti roti dan selai,” tukasnya. Setelah didiamkan dan mengembang, bata ringan dikeluarkan dan dipotong-potong. Lalu dimasukkan lagi untuk di-steam (autoclave), didinginkan, dan di-packing. Bata ringan muncul sebagai jawaban atas kelemahan bata merah yang tidak memiliki standar kualitas dan variasi ukuran.

Bata ringan terukur kualitasnya, presisi, lebih ringan, dengan tekstur halus dan pori-pori saling menutup (kedap air). Aplikasinya meringankan beban struktur, tahan gempa, dan hemat biaya. Bata ringan juga kedap suara, bisa menjadi insulasi panas, dan tahan api. “Hasil tes saat salah satu sisi Primacon dipanaskan 1.000 derajat lebih selama tiga jam, suhu di sisi yang lain hanya 80 derajat. Jadi, kalau bangunan terbakar di dalamnya masih bisa bertahan tiga jam,“ jelas Anto.

Hanya perlu perhitungan yang cermat soal penggunaan rangka atap, penutup atap, atau apapun di atas struktur bata ringan. Produk juga tidak kuat dipaku karena berongga dan tidak padat. Berat jenis dan kekuatannya sudah dikurangi (di bawah bata merah). “Tapi, sudah cukup banget untuk rumah. Pakai Fischer (produk fixing untuk memasang sesuatu di dinding, Red) aja kalau mau menggantung lukisan atau foto,“ ujar Davy Sukamta, Ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI).

Ukuran bata ringan bervariasi tergantung merek (lihat tabel). Beberapa seperti Drymix dan LeichtBric didesain dengan sistem interlock yang sangat menghemat penggunaan perekat. Drymix bahkan memiliki produk plester ringan (one coat system) dengan finishing hanya 15 kg/m2 yang membuat aplikasi bata ringan lebih efisien. “Menghemat hampir 70 persen beban bangunan dibanding sistem plester+aci. Umur bangunan juga lebih awet,” kata Pasha.

Beberapa Produk Bata Ringan/Bata Beton Ringan
Merek Ukuran (cm) Berat (kg/m3) Kuat Tekan (kg/cm3) Harga (Rp/kubik)
i Brick
Primacon
LeichtBrick
21x20x10
20x60x75
60x20x10
1.440
650
490
125
45
-
-
595.000
470.000

Sumber: Wawancara dengan produsen dan survei HousingEstate, Juli 2008

Lestarikan Bata Merah
Menurut Davy, bata ringan memang oke buat rumah, tapi sayang kalau karena itu industri bata merah hilang. Ia sendiri melihat gelagat ke arah itu karena etos kerja industrinya rendah, keseragaman kualitas tidak ada. Karena itu orang jadi malas, lama-lama disingkirkan. Begitu mulai disingkirkan, yang masih menjual banting harga. Standar mutunya makin parah sampai akhirnya hilang.

“Padahal, di Eropa bata merah masih dipakai dan bangunannya bisa bertahan seribu tahun lebih. Berarti bata merah itu sumber yang luar biasa asal pembakarannya baik,“ katanya. Karena itu ia berharap ada intervensi pemerintah untuk melestarikan industri bata merah. “Jangan hanya pemodal kuat yang hidup,“ tukasnya.

Misalnya, dengan membentuk koperasi untuk memajukan industri rakyat. Bahan baku clay (tanah liat) tersedia melimpah. Tinggal meriset di lokasi mana yang bagus kualitasnya. Jangan mengambil dari semua tempat. Setelah itu sediakan tanur (fasilitas pembakaran) memadai di beberapa titik di setiap sentra industri. Pengrajin yang butuh tinggal menyewa, tidak perlu membuat sendiri-sendiri.

Mereka juga diberdayakan membuat bata merah berkualitas dan terstandarisir. “Misalnya, yang benar habis dibakar didiamkan dulu tiga bulan. Waktu segitu bata sudah menyusut sempurna, menyerap kelembaban sampai habis. Tapi, sulit mengharapkan perajin kecil melakukannya, karena perlu modal besar, punya tempat penyimpanan luas. Perlu bantuan pemerintah,“ jelas konsultan struktur berbagai bangunan tinggi ini.



No comments:

Post a Comment